Jumat, 24 Juli 2015

Reference Mulsa


Mulsa Plastik Hitam Perak

Filed under: Articles — fahrurrozi @ 9:07 pm
Fakta Ilmiah Dibalik Penggunaan Mulsa Plastik Hitam Perak
dalam Produksi Tanaman Sayuran
(Fahrurrozi, Orasi Ilmiah pada Dies Natalis  & Wisuda Sarjana I, STIPER Rejang Lebong. 29 Januari 2009)
Pendahuluan
Mulsa dapat didefinisikan sebagai setiap bahan yang dihamparkan untuk menutup sebagian atau seluruh permukaan tanah dan mempengaruhi lingkungan mikro tanah yang ditutupi tersebut (Waggoner et al., 1960).  Bahan-bahan dari mulsa dapat berupa sisa-sisa tanaman atau bagian tanaman yang lalu dikelompokkan sebagai mulsa organik, dan bahan-bahan sintetis berupa plastik yang lalu dikelompokkan sebagai mulsa non-organik. Penggunaan mulsa plastik sudah menjadi standar umum dalam produksi tanaman sayuran yang bernilai ekonomis tinggi, baik di negara-negara maju maupun di negara berkembang, termasuk Indonesia. Bahan utama penyusun mulsa plastik adalah low-density polyethylene yang dihasilkan melalui proses polimerisasi etilen dengan menggunakan tekanan yang sangat tinggi (Lamont 1993).  Penggunaan mulsa plastik, terutama mulsa plastik hitam perak, dalam produksi sayuran yang bernilai ekonomis tinggi seperti cabai, tomat, terong, semangka, melon dan mentimun, semakin hari semakin meningkat sejalan dengan peningkatan kebutuhan dan permintaan konsumen terhadap produk sayuran tersebut. Meskipun penggunaan mulsa plastik ini memerlukan biaya tambahan, tetapi nilai ekonomis dari hasil tanaman mampu menutupi biaya awal yang dikeluarkan. 
Penggunaan mulsa plastik hitam perak di Kabupaten Rejang Lebong sebagai sentra produksi sayuran terbesar kedua di Sumatera, setelah sangat pesat perkembangannya dalam 10 tahun terakhir ini.  Hasil pengamatan di Kabupaten Rejang Lebong menunjukkan bahwa penggunaan mulsa plastik hitam perak sudah hampir menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses produksi tanaman sayuran, terutama cabe dan tomat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan berbagai jenis mulsa pada berbagai jenis tanaman secara tepat dan benar dapat meningkatkan hasil awal dan total hasil dari berbagai tanaman, meningkatkan kualitas hasil tanaman dan pada akhirnya meningkatkan efisiensi usaha tani itu sendiri.
Tulisan ini akan memberikan penjelasan ilmiah tentang penggunaan mulsa plastik hitam perak, sehingga upaya pemanfaatan teknologi ini dapat lebih optimal dan efisien, serta terciptanya suatu proses produksi tanaman sayuran yang berkelanjutan, baik dari sisi ekonomis, ekologis maupun dari segi sosial budaya petani dalam memproduksi tanaman sayuran.
Mekanisme dasar pengaruh mulsa plastik
Pengaruh mulsa plastik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sayuran terutama ditentukan melalui pengaruhnya terhadap keseimbangan cahaya yang menerpa permukaan plastik yang digunakan.  Secara umum seluruh cahaya matahari yang menerpa permukaan plastik, maka sebagian cahaya tersebut akan dipantulan kembali ke udara, dalam jumlah yang kecil diserap oleh mulsa plastik, dan diteruskan mencapai pemukaan tanah yang ditutupi mulsa plastik.  Kemampuan optis mulsa plastik dalam memantulkan, menyerap dan melewatkan cahaya tersebut ditentukan oleh warna dan ketebalan mulsa plastik tersebut (Decouteau et al., 1988, 1989 ; Lamont, 1993).  Cahaya yang dipantulkan permukaan mulsa plastik ke amosfir akan mempengaruhi bagian atas tanaman, sedangkan cahaya yang diteruskan ke bawah permukaan mulsa plastik akan mempengaruhi kondisi fisik, biologis dan kimiawi rizosfir yang ditutupi.
Cahaya matahari yang diteruskan melewati permukaan mulsa terjebak di permukaan tanah yang ditutupinya dan membentuk ‘efek rumah kaca’ dalam skala yang kecil (Waggoner., 1960 ; Tanner, 1974 ; Mahrer et al., 1979). Panas yang terjebak ini akan meningkatkan suhu permukaan tanah, memodifikasi keseimbangan air tanah, karbondioksida tanah, menekan pertumbhan gulma, dan meningkatkan aktifitas mikroorganisme.  Secara umum, peningkatan suhu permukaan tanah mungkin bukan merupakan yang menguntungkan bagi sayuran yang ditanam di daerah tropis, tetapi hal ini sangat menguntungkan bagi tanaman yang ditanam di daerah yang dingin dan beriklim sub-tropis. Namun demikian di daerah tropis, pengaruh mulsa plastik terhadap aktifitas mikroorganisme (sebagai akibat peningkatan suhu rizosfir) sangat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman melalui peningkatan konsentrasi karbon dioksida di zona pertanaman (Fahrurrozi et al., 2001) dam suplai bebrap hara makro  (Hill et al., 1982). Efektifitas penggunaan mulsa plastik di daerah tropis juga diperoleh dari kemampuan fisik mulsa plastik melindungi tanah dari terpaan langsung butir hujan, menggemburkan tanah-tanah di bawahnya, mencegah pencucian hara, mencegah percikan butir tanah ke tanaman, mencegah penguapan air tanah, dan memperlambat pelepasan karbon dioksida tanah hasil respirasi aktivitas mikroorganisme. 
Mengapa hitam perak?
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman sesungguhnya merupakan hasil tanaman dalam memanfaatkan sumberdaya cahaya yang ada di atmosfir melalui proses fotosintesis.  Hasil penelitian oleh Decouteau et al.(1998, 1989) menunjukkan bahwa warna permukaan  mulsa plastik memiliki kemampuan optis dalam mengubah kuantitas dan kualitas cahaya yang dapat dimanfaatkan tanaman dalam melakukan proses pertumbuhannya.   Warna-warna gelap, seperti hitam, merah, coklat dan hijau cenderung menyerap cahaya lebih banyak dibandingkan dengan warna trasparant atau warna yang cerah termasuk warna perak (Fahrurrozi dan Stewart, 1994).  Sebaliknya mulsa transparant melewatkan hampir semua cahaya yang menimpa permukaannya ke zona rizosfir tanaman.  Mulsa plastik yang berwarna gelap sangat efektif dalam mengendalikan gulma, tetapi sebaliknya untuk mulsa plastik transparan(Fahrurrozi dan Stewart, 1994).  Efektivitas pengendalian gulma di bawah mulsa plastik hitam dikarenakan karena hampir tidak ada cahaya yang dapat dimanfaatkan oleh biji-biji gulma untuk fotosintesis, sehingga gulma tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.  Sedangkan gulma yang tumbuh di bawah mulsa plastik transparan tumbuh dengan baik, karena hampir semua cahaya matahari dilewatkan (ditransmit) plastik ke zona rizosfir.
Mulsa plastik yang berwarna perak memiliki kemampuan memantulkan sekitar 33 persen cahaya matahari yang menerpa permukaannya (Fahrurrozi dan Stewart, 1994), tergantung jumlah zat pewarna yang digunakan dan ketebalan mulsa. Pantulan cahaya ini mampu mengurangi efek pemanasan rizosfir di bawah permukaan plastik, dan juga merupakan rentang cahaya yang disukai oleh serangga, sehingga serangga akan mengikuti arah pantulan dan meninggalkan pertanaman, Akibatnya populasi serangga, misalkanaphids dan thrips, dapat berkurang di zona pertanaman yang diusahakan.  Kemampuan menekan populasi serangga ini dan mencehag terjadinya pemanasan berlebihan merupakan salah satu alasan mengapa plastik bewarna perak digunakan dalam produksi tanaman sayuran.
Teknologi produksi mulsa juga mengembangkan apa yang disebut dengan co-extruded mulch, mulsa yang memiliki dua warna yang berbeda di kedua sisinya (Dubois and Brighton, 1978).  Mulsa plastik hitam perak merupakan salah satu produk co-extruded mulch yang paling populer digunakan dalam produksi tanaman sayuran, karena pada bagian bawahnya (yang bersentuhan dengan pemukaan tanah) bewarna hitam, dan yang menghadap ke atmosfir bewarna perak. Mulsa plastik hitam perak memadukan kemampuan kedua warna tersebut, sehingga mulsa jenis ini efektif dalam menekan pertumbuhan gulma, dan juga mengurangi populasi serangga di sekitar pertanaman dengan tetap secara fisik melindungi tanah dari terpaan langsung butir hujan, menggemburkan tanah-tanah di bawahnya, mencegah pencucian hara dan penguapan air tanah, dan memperlambat pelepasan karbon dioksida tanah hasil respirasi aktivitas mikroorganisme, serta mencegah percikan butir tanah ke bagian tanaman. 

Mulsa plastik hitam perak dan produksi sayuran
Berbagai penelitian di berbagai wilayah menunjukkan bahwa penggunaan mulsa plastik hitam perak meningkatkan hasil berbagai tanaman sayuran dibandingkan dengan tanaman  yang ditanam dengan tanpa menggunakan penutup tanah (bare soil), seperti tanam cabai (Fahrurrozi, 1995; Harsono, 1997; Syamiah, 1997;  Kusbiantoro et al., 2003; Fahrurrozi dkk, 2006; 2009; Soetiarso, dkk., 2006), tomat (Decouteau et al.,1998 ; 1989), mentimum (Gusmin, 1996; Suryani, 2003), semangka (Handayani, 1996; Nurmawati dkk., 2001), melon  (Marlina, 2003).
Aspek lingkungan yang dimodifikasi
Suhu tanah dan karbon dioksida .
Secara umum penggunaan mulsa plastik hitam perak meningkatkan suhu rizosfir yang ditutupi mulsa dibanding tanpa mulsa (Fahrurrozi and Stewart, 1994 ; Fahrurrozi et al., 2001).  Peningkatan suhu tanah di bawah mulsa plastik hitam perak lebih rendah dibanding dengan suhu tanah di bawah mulsa plastik hitam.  Meskipun di daerah tropis, peningkatan suhu tanah relatif tidak diinginkan, tetapi peningkatan suhu tanah akan meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah dalam menguraikan bahan organik yang tersedia (Fahrurrozi et al., 2001), sehingga terjadi penambahan hara tanah dan pelepasan karbon dioksida melalui lubang tanam.
Hasil penelitian menujukkan bahwa konsentrasi karbon dioksida rizosfir di bawah mulsa plastik lebih tinggi dibanding tanpa mulsa (Hopen dan Oekber, 1975 ; Baron dan Gorske, 1981).  Karbon  dioksida ini keluar melalui lubang tanam yanga mencapai 560 ppm (Soltani et al., 1985), sehingga tanaman akan berada dalam kondisi ‘kaya’ akan karbon dioksida yang dapat mencapai 1350 ppm (Fahrurrozi et al., 2001).
Hara tanah
Penambahan hara tanah tidak hanya terjadi sebagai akaibat meningkatkatnya aktivitas mikroorganisme tanah dalam melakukan respirasi dalam proses dekomposisi bahan organik, tetapi juga terjadi melalui penekanan pencucian hara tanah sebagai akibat tertutupnya permukaan tanah.  Menurut Locascio et al. (1985) dan Lamont (1993), peningkatan nitrogen nitrogen di bawah mulsa plastik terjadi karena mulsa plastik mencegah terjadinya infiltrasi air hujan berlebihan dan perkolasi air tanah, serta mengurangi penguapan nitrogen dari dalam tanah.
Kemampuan mulsa plastik dalam mencegah kehilangan hara juga akan meningkatkan efisiensi penggunaan nitrogen. Hasil penelitian Fahrurrozi dkk (2009) menunjukkan bahwa nirogen dapat dikurang hingga 40 persen jika menggunakan mulsa plastik hitam perak, tanpa mengurangi hasil tanaman cabai.  Tidak tertutup kemungkinan bahwa efisiensi penggunaan hara juga terjadi pada hara-hara makro lainnya, misal P2O5 dan K2O.
Air tanah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa air tanah dan kelembahan tanah lebih tinggi  pada tanah yang ditutupi mulsa plastik dibanding dengan tanah yang tidak ditutupi mulsa plastik (Hills et al., 1982 ; Fahrurrozi dan Stewart, 1994 ; Fahrurozi dkk, 2008).  Hal ini terjadi karena penguapan air tanah yang terjadi dihambat oleh permukaan plastik yang menutupinya, dan kembali lagi ke rizosfir.  Penggunaan mulsa plastik juga mencegah terjadi perkolasi dan gerakan air tanah, sehingga dapat meningkatkan meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi (Lamont, 1993; Zulkarnain, 1997). 
Pengendalian  Gulma
Secara sederhana gulma dapat didefinisikan sebagai tanaman yang tumbuh pada tempat dan waktu yang tidak diinginkan.  Mulsa plastik yang berwarna gelap sangat efektif dalam mengendalikan gulma (Fahrurrozi dan Stewart, 1994).  Hal ini terjadi karena benih-benih gulma di bawah mulsa plastik hitam tidak memiliki akses terhadap cahaya matahari untuk berfotosintesis, sehingga gulma yang tumbuh akan mengalami etiolasi dan tumbuh lemah.   Pertumbuhan yang lemah ini akan diperparah dengan adanya suhu yang relatif panas dan kelembaban tanah yang tinggi.  Panas yang basah memiliki efek mematikan yang lebih tinggi dibanding panas kering.   Hasil penelitian di berbagai tempat menunjukkan bahwa penggunaan mulsa plastik hitam perak secara konsisten efektif menekan pertumbuhan gulma (Fahrurrozi, 1995 ; Schonbeck, 1998; Setyowati dkk., 2002 ; Fahrurrozi dkk, 2006).
Populasi Serangga
Peningkatkan hasil juga diduga berkaitan dengan kemampuan mulsa plastik hitam perak dalam mengurangi populasi aphid pada dedaunan tanaman cabai (Fahrurrozi, 1995). Pengurangan  berkaitan fakta bahwa hampir 33 persen permukaan mulsa plastik perak memantulkan cahaya near ultra violet (Fahrurrozi dan Stewart,  1994), gelombang cahaya yang disukai oleh kebanyakan serangga (Kring, 1974).  Serangga lain yang juga populasinya berkurang di pertanaman yang menggunakan mulsa plastik perak adalah thrips (Voset al., 1991 ; Soetiarso, dkk, 2006). Penurunan populasi serangga ini juga berkaitan dengan peningkatan suhu akibat pantulan cahaya di sekitar permukaan mulsa dan pertanaman. Menurut Alleyene dan Morrison (1978) pada suhu antara 25 – 30o C perkembangbiakan aphid mengalami penghambatan. Pengurangan populasi serangga juga mampu mengurangi populasi patogen dan virus pengganggu tanaman (Wyman et al., 1979).  Hal ini terjadi karena serangga tersebut berperan sebagai vektor bagi patogen dan virus.
Modifikasi lainnya
Penggunaan mulsa plastik (termasuk hitam perak) dapat mengurangi pemadatan tanah, sehingga tanah-tanah yang ada di bawah permukaan plastik dapat menjadi lebih gembur dibanding tanpa mulsa plastik (e.g. Lamont, 1993; Fahrurrozi dkk, 2006).   Butir hujan yang menerpa permukaan tanah tidak langsung masuk ke zona rizosfir, tetapi dicegah oleh plastim dan mengalir ke luar guludan.  Penggunana mulsa palstik juga mengurangi erosi tanah, karena guludan tertutup plastik, sehingga butir tanah tidak terangkut ke tempat lain. Penggunaan mulsa plastik juga mengurangi efek percikan permukaan tanah, karena tanaman tumbuh di kawasan yang relatif tertutup dengan mulsa plastik.  Akibatnya tanaman bagian ekonomis tanaman (daun, bunga dan buah) menjadi bersih dan tidak mudah terserang patogen. 
Penggunaan ulang mulsa plastik
Persoalan limbah plastik memang merupakan hal yang harus diantisipasi karena sifak plastik yang sulit terurai di alam.  Upaya mengurangi limbah kebanyakan dilakukan dengan melakukan pembakaran secara terbuka.  Untuk didaur ulang, pabrik mengalami kesulitan, karena sisa-sisa plastik sangat kotor, terutama dari butiran pasir halus.  Produsen plastik di negara-negara maju telah mengembangkan jenisphotodegradable plastic, jenis plastik yang dapat terurai di alam melalui stimulasi cahaya matahari.  Stabilitas plastik selama produksi tanaman masih menjadi kendala, karena usia tanaman dan kondisi pencahayaan berbeda-beda. Para ahli juga mengembangkan biodegradable plastic, jenis plastik yang dapat terurai melalui stimulasi mikrooragnisme.   Kedua jenis ini tampaknya belum tersedia dalam skala komersial di Indonesia, tetapi di Amerika Utara dan Eropa Barat, sudah dapat dibeli oleh petani.  
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan plastik secara berulangkali pada lubang tanam yang sama atau yang berbeda.  Hasil observasi lapangan di Kabupaten Rejang Lebong, misalnya, menunjukkan bahwa kebanyakan petani cabai menggunakan mulsa plastik sampai rusak (biasanya sampai dua atau tiga kali pemakaian, dan bahkan ada yang menggunakan sampai empat kali). Meskipun kemampuan optis mulsa plastik hitam perak berubah sejalan dengan waktu (Kluitenberg et al., 1991), hasil penelitian Fahrurrozi dkk (2006) menunjukkan bahwa penggunaan mulsa plastik hitam perak hingga tiga kali tidak menurunkan produksi tanaman cabai.  Penggunaan mulsa plastik hitam perak secara berulang ini tidak hanya mengurangi limbah plastik di alam, tetapi juga dapat menekan biaya produksi petani.
Penutup
Peningkatan produktifitas tanaman sayuran yang diproduksi dengan menggunakan mulsa plastik hitam perak terjadi karena efek ganda lembaran plastik dalam memodifikasi lingkungan rizosfir tanaman dan lingkungan pertanaman sebagai akibat dari perubahan keseimbangan cahaya matahari yang menerpa permukaan mulsa plastik hitam perak.
Daftar Pustaka
Alleyne, E.H. and F.O. Morrison. 1978.  The lettuce root aphid, Pemphigus bursaries L. Homothera:Aphidoidae) in Cquebec Cananada. Ann. Soc. Ent. Quebec.  22:171-180
Baron, J.J. and S.F. Gorske. 1981. Soil carbon dioxide level  as affected by plastic mulches. Proc. Natl. Agr. Plastic Congress. 16:149-155.
Decoteau, D.R., M.J. Kasperbauer, D.D. Daniels and P.G. Hunt. 1988. Plastic mulch color effects on reflected light and tomato plant growth. Scientia Hortic. 34:169-175.
Decoteau, D.R., M.J. Kasperbauer and P.G. Hunt. 1989. Mulch surface color affects yield of fresh tomato. J. Amer. Soc.Hort. Sci 114:216-219.
Dubois, P. And C.A. Brighton. 1978. Plastics in Agricultural. Applied Science Publ. London. 176p.
Fahrurrozi. 1995. Pengaruh mulsa plastik terhadap pertumbuhan dan hasil Paprika (Capsicum annuum L.) jenis Bell dan populasi aphid. Jurnal Penelitian Universitas Bengkulu II (4) : 1 - 8.
Fahrurrozi and K.A. Stewart. 1994.  Effects of mulch optical properties on weed growth and development. HortScience 29 (6):545
Fahrurrozi, K.A. Stewart and S. Jenni.  2001. The early growth of muskmelon in mulched mini-tunnel containing a thermal-water tube.  I. The carbon dioxide concentration in the tunnel. J. Amer. Soc. For Hort. Sci.. 126:757-763.
Fahrurrozi, I. Tarmizi, dan B. Hermawan. 2009. Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai pada Berbagai Dosis Pupuk Nitrogen dan Jenis Mulsa. Bionatura. Dalam proses penerbitan untuk Volume 11, edisi Maret 2009
Fahrurrozi, N. Setyowati, dan Sarjono.  2006.  Efektifitas Penggunaan Ulang Mulsa Plastik Hitam Perak dengan Pemberian Pupuk Nitrogen terhadap Pertumbuhan dan Hasil Cabai. Bionatura 8:17-23.
Gusmin, E. 1996.  Pengaruh berbagai jenis mulsa terhadap pertumbuhan dan hasil mentimun. Skripsi S-1 Fakultas Pertanian.
Handayani, M. 1996. Pengaruh Enam Jenis Mulsa Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Semangka (Citrullus vulgaris L.). Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.
Harsono, P. 1997. Kajian mulsa plastik terhadap lingkungan mikro tanah dan hasil cabai (Capsicum annuum L.). Jurnal Penelitian UNIB 8 (3): 34-38.
Hill, D.E., L. Hankin, and G.R. Stephens.  1982.  Mulches: Their effect on fruit set, timing and yield of vegetables. Conn. Agr. Exp. Sta. Bulletin.  805.
Hopen, H.J. and N.F. Oebker. 1975. Mulch effects on ambient carbon dioxide levels and growth of several vegetables. HortScience. 10:159-161.
Kluitenberg, G.J., J.M. Ham, and W.J. Lamont. 1991. Effect of aging on the optical properties of plastic mulches. Proc. 23rd Natl. Agric. Plastics Congress. p:149-154.
Kring, J.B. 1964. New ways to repel aphids.  Frontier of Plant Science. 17:6-7.
Kusbiantoro, B., E. Sukarna dan M. Djakaria. 2003. Pengaruh penggunaan mulsa plastik dan pola tanam pada produksi cabai merah. http//www.warintek.progesio. html. 20 Nov 2003.
Lamont, W. J. 1993. Plastic mulches for the production of vegetable crops. HorTechnology. 3 (1) : 35-38.
Locascio, S.J. J.G.A. Fiskell, and D.A. Graetz,. 1985. Nitrogen accumulation by pepper as influenced by mulch and time of fertilizer application. HortScience. 110 (3) : 325-328.
Mahrer, Y.  1979. Prediction of soil temperatures of a soil mulched with transparent polyethylene. J. Applied Meteorology.  18:1263-1267.
Marlina, L. 2003. Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Melon pada Berbagai Konstruksi Ajir. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.

Nurmawati, S., I. Winarni, dan A. Waskito.  2001. Penggunaan mulsa jerami, alang-alang, dan plastic hitam perak pada tanaman semangka tanpa biji.  Jurnal Penelitian Matematika, Sains, dan Teknologi. 2:36-41.
Schonbeck, M.W. 1998.  Weed suppression and labor costs associated with organic, plastic and paper  mulches in small scale vegetable production.  J. Sustain. Agric. 13:13-32.
Setyowati, NanikFahrurrozi, P. Prawito, dan E. Satria.  2003. Pertumbuhan dan hasil kentang dataran tinggi Rejang.  Teknik Pemulsaan dan Pemupukan Bokashi terhadap Pertumbuhan Gulma. Pros. Konf. Nas. HIGI XVI. Bogor Juli 2003.
Soltani, N., J.L. Anderson and A.R. Hamson.  1985. Growth and analysis of watermelon plants grown with muches and row-covers. J.Amer. Soc. Hort. Sci.. 120:1001-1009
Soetiarso, T.A. Ameriana, M. Prabaningrum, L. Sumarni, N. 2006.  Pertumbuhan, hasil, dan kelayakan finansial penggunaan mulsa dan pupuk buatan pada usahatani cabai merah di luar musim. Jurnal Hortikultura. 16(1): 63-76

Suryani, L. 2003. Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Mentimun pada Berbagai Konstruksi Ajir. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.

Syamiah.  1997.  Pengaruh mulsa dan frekuensi penyinaran terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah di lahan sawah tadah hujan. Agrista 1(2):39-45
Tanner, B. 1074. Microclimate modification : Basic concepts. HortScience, 9:555-560.
Vos, J.G.M., Satrosiswijo, T.S. Uhan, and W. Setiawati. 1991. Thrips on hot pepper in Java.Indonesia. Proc. Reg. Consult. Workshop, Thrips in Southeast Asia, p:18-28.
Waggoner, P.E., P.M. Miller, and H.E. deRoo. 1960. Plastic mulching; Principles and benefits. Conn. Agr. Exp. Sta. Bul. 643. 44 pp.
Wyman, J.A., N.C. Toscano, K. Kido, H. Jhonson, and K.S. Mayberry. 1979. Effects of mulching on the soread of aphid-transmitted watermelon mosaic and virus to summer squash. J. Econ. Entomol. 72:139-143.
Zulkarnain, D. 1997. Pengaruh persentase penutupan mulsa terhadap sifat kimia tanah, pertumbuhan dan hasil bawang merah. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu, Bengkulu.

Kamis, 20 Desember 2012

Pegendalian PBK Kakao


HAMA/PENYAKIT UTAMA PADA TANAMAN KAKAO DAN TEKNIK PENGENDALIANNYA

GEJALA SERANGAN a. Penggerek buah kakao (PBK)
Conopomorpha cramerella
Buah kakao yang diserang berukuran panjang 8 cm, dengan gejala masak awal, yaitu belang kuning hijau atau kuning jingga dan terdapat lubang gerekan bekas keluar larva. Pada saat buah dibelah biji-biji saling melekat dan berwarna kehitaman, biji tidak berkembang dan ukurannya menjadi lebih kecil. Selain itu buah jika digoyang tidak berbunyi.
b. Kepik penghisap buah (Helopeltis spp)
Buah kakao yang terserang tampak bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman dengan ukuran bercak relatif kecil (2-3 mm) dan letaknya cenderung di ujung buah. Serangan pada buah muda menyebabkan buah kering dan mati, tetapi jika buah tumbuh terus, permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Bila serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan daun layu, gugur kemudian ranting layu mengering dan meranggas.
c. Penyakit busuk buah (Phytophthora palmivora)Buah kakao yang terserang berbercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari ujung atau pangkal buah. Penyakit ini disebarkan melalui sporangium yang terbawa atau terpercik air hujan, dan biasanya penyakit ini berkembang dengan cepat pada kebun yang mempunyai curah hujan tinggi dengan kondisi lembab.
METODE PENGENDALIAN
Usaha pengendalian hama/penyakit tersebut terutama dilakukan dengan sistem PHT (pengendalian hama terpadu).
• Hama penggerek buah.
Pengendaliannya dilakukan dengan : (1) karantina; yaitu dengan mencegah masuknya bahan tanaman kakao dari daerah terserang PBK; 2) pemangkasan bentuk dengan membatasi tinggi tajuk tanaman maksimum 4m sehingga memudahkan saat pengendalian dan panen; (3) mengatur cara panen, yaitu dengan melakukan panen sesering mungkin (7 hari sekali) lalu buah dimasukkan dalam karung sedangkan kulit buah dan sisa-sisa panen dibenam; (4) penyelubungan buah (kondomisasi), caranya dengan mengguna-kan kantong plastik dan cara ini dapat menekan serangan 95-100 %. Selain itu sistem ini dapat juga mencegah serangan hama helopeltis dan tikus.; (5) cara kimiawi: dengan Deltametrin (Decis 2,5 EC), Sihalotrin (Matador 25 EC), Buldok 25 EC dengan volume semprot 250 l/ha dan frekuensi 10 hari sekali.
• Hama helopeltis
Pengendalian yang efektif dan efisien sampai saat ini dengan insektisida pada areal yang terbatas yaitu bila serangan helopeltis <15 % sedangkan bila serangan >15% penyemprot-an dilakukan secara menyeluruh. Selain itu hama helopeltis juga dapat dikendalikan secara biologis, menggunakan semut hitam. Sarang semut dibuat dari daun kakao kering atau daun kelapa diletakkan di atas jorket dan diolesi gula.
• Penyakit busuk buah.
Dapat diatasi dengan beberapa cara yaitu: (1) sanitasi kebun, dengan memetik semua buah busuk lalu membenamnya dalam tanah sedalam 30 cm; (2) kultur teknis, yaitu dengan pengaturan pohon pelindung dan lakukan pemangkasan pada tanaman-nya sehingga kelembaban di dalam kebun akan turun; (3) cara kimia, yaitu menyemprot buah dengan fungisida seperti :Sandoz, cupravit Cobox, dll. Penyemprotan dilakukan dengan frekuensi 2 minggu sekali; (4) penggunaan klon tahan hama/penyakit seperti: klon DRC 16, Sca 6,ICS 6 dan hibrida DR1

Minggu, 09 Desember 2012

Pengaruh Pemberian Pupuk P dan Berbagai Bahan Organik Terhadap Sifat Kimia Ultisol Mancang dan Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays L.)


Pengaruh Pemberian Pupuk P dan Berbagai Bahan Organik Terhadap Sifat Kimia Ultisol Mancang dan Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays L.)

Sifat dan Ciri Tanah Ultisol

Kata Ultisol berasal dari bahasa latin Ultimus, yang berarti terakhir atau dalam arti hal Ultisol, tanah yang paling terkikis  dan memperlihatkan pengaruh pencucian yang terahir. Ultisol memiliki horizon argilik degan kejenuhan basa yang rendah. Biasanya terdapat alumunium yang dapat dipertukarkan dalam jumlah yang tinggi. Pertanian dapat dipertahankan dengan perladangan berpisah atau dengan penggunaan pupuk. Beberapa sifat Ultisol yaitu :
  1. Kandungan tanah liat memperlihatkan perkembangan horizon argilik.
  2. Kandungan bahan organik dan semua horizon, kecuali Al yang sangat tipis, sangat rendah.
  3. Kapasitas tukar kation secara nisbi rendah, menyatakan kandungan bahan organik yang rendah dan adanya tanah liat berkapasitas pertukaran kation yang rendah sampai kaolinit.
  4. Jumlah basa  yang dapat di pertukarkan dan persentase kejenuhan basa adalah sangat rendah, kecuali untuk horizon Al yang sangat tipis. (Foth, 1994).
Menurut Munir (1996), komponen kimia tanah berperan besar dalam menentukan sifat dan ciri tanah umumnya dan kesuburan tanah. Ultisol merupakan tanah yang mengalami proses pencucian yang sangat intensif yang meyebabkan Ultisol miskin secara kimia dan secara fisik. Selain itu Ultisol mempunyai kendala kemasaman tanah, kejenuhan Aldd tinggi,                          kapasitas tukar kation rendah (< 24 me/100 g tanah), kandungan N rendah, kandungan fosfor dan kalium rendah serta sangat peka terhadap erosi.
Ultisol umumnya terdapat pada horison A yang tipis dengan kandungan bahan organik yang rendah. Unsur hara makro seperti fosfor dan kalium yang sering kahat, reaksi tanah masam hingga sangat masam, serta kejenuhan Al yang tinggi merupakan sifat-sifat Ultisol yang sering menghambat pertumbuhan tanaman. (Prasetyo dan Suriadikarta, 2004).
Tanah Ultisol ini dicirikan oleh kadar bahan organik dan muatan variabel yang amat rendah. Muatan listrik rendah itu, karena kandungan liat sesquioksida dan  liat 1:1, membentuk KTK yang juga sangat rendah. Umumnya tanah ini juga sangat tercuci (leached) hingga kandungan basa-basa menjadi sangat rendah. Hal ini menyebabkan pH tanah rendah sekali yang meningkatkan kadar Al bebas, hingga memperbesar bahaya toksisitas Al dan fiksasi fosfat (Tan, 1995).
Peranan Bahan Organik Terhadap Sifat Kimia Tanah
Menurut Greenland dan Dart (1972) dalam Sanchez (1992) menunjukkan beberapa keuntungan bahan organik bagi pertanian tanpa pupuk:
1. Bahan organik menyediakan sebagian besar nitrogen dan belerang serta setengah dari fosfor yang diserap oleh tanaman yang tidak dipupuk.
2. Bahan organik menyediakan sebagian besar daya tukar kation tanah sangat lapuk yang masam, penurunan bahan organik dengan cepat mengakibatkan penurunan daya tukar kationnya secara tajam.
3. Dengan membentuk gabungan dengan bahan organik, oksida amorf tidak mengkristal.
4. Bahan organik membantu pengagregatan tanah, dengan demikian memperbaiki   sifat fisika tanah dan mengurangi kerentanan terhadap pengikisan pada tanah.
5. Bahan organik mengubah sifat menambat air, terutama pada tanah pasiran
6. Bahan Organik dapat membentuk gabungan dengan unsur hara mikro yang mencegah pencucian hara tersebut  (Sanchez, 1992).
Secara umum dapat dikatakan bahwa bahan organik memperbesar  keterse
diaan fosfor tanah, melalui hasil dekomposisinya yang menghasilkan asam – asam
organik dan CO2. Gas COlarut dalam air membentuk asam karbonat yang mampu melapukkan beberapa mineral primer tanah. (Nyakpa, dkk, 1988).
Cacing tanah peranannya cukup besar dalam meningkatkan kesuburan tanah. Sebagai fauna yang membuat liang, maka cacing tanah memakan tanah dan menghaluskan bahan organik. Bahan kascing sebagai hasil kegiatan cacing terkumpul baik di permukaan tanah maupun di dalam lorong cacing. Bahan kascing terdiri atas campuran bahan tanah dan hancuran bahan organik yang halus. Hasil kegiatan cacing tanah meningkatkan ketersediaan hara  karena lebih banyak mengandung hara Ca, Mg dan K daripada tanah di sekitarnya.Ketersediaan P mencapai 4-10 kali lipat daripada tanah di sekitarnya (Sutanto, 2002)
Selain mengandung unsur hara, kascing juga mengandung asam humat, seperti pupuk organik lainnya. Zat-zat humat bersama-sama dengan tanah liat berperan terhadap sejumlah reaksi kimia dalam tanah. Selain asam humat, kascing mengandung KTK yang tinggi. KTK kascing bervariasi dari 35 me/100g sampai 130me/100g. KTK tanah lebih rendah daripada KTK kascing. Dengan demikian, kascing dapat menambah hara ke dalam tanah atau kascing dapat meningkatkan kesuburan tanah.(Mulat, 2005).
Pengaruh pemberian limbah udang, limbah campuran dan limbah ikan teri terhadap pertambahan tinggi tanaman menunjukkan pola yang sama dengan pola pertambahan jumlah daun, panjang daun dan diameter batang semu pada tanaman jagung putih. Pemberian limbah udang dengan dosis 800 kg/ha memberikan hasil yang terbaik bila dibandngkan dengan pemberian limbah ikan campuran limbah ikan teri, namun antara perlakuan tersebut tidak memberikan perbedaan yang nyata (Nur dan Sitepu, 1995).
Pemberian limbah udang pada tanah masam diharapkan mampu meningkatkan pengambilan hara P melalui perbaikan pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman dan teratasinya keracunan Al serta menurunnya Al-P dan Fe-P yang sukar larut. Dengan terbebasnya P dari ikatan senyawa beracun seperti Al-P dan Fe-P maka ketersediaan P semakin tinggi dan jumlah P yang dapat diserap tanaman juga akan semakin tinggi (Nur dan Sitepu, 1995).
Siahaan, et al, (1997) melaporakan bahwa, aplikasi TKS dengan berbagai dosis tanpa maupun dengan tambahan pupuk anorganik secara nyata meningkatkan perubahan sifat kimia tanah yaitu pH, C-organik, N, P-tersedia, KTK dan kejenuhan basa. Sedangkan kadar Al tertukar dalam tanah dengan aplikasi TKS ini mengalami penurunan. Hal ini tersebut menunjukkan bahwa aplikasi TKS sebagai sumber bahan organik dapat mengikat (chelates) Al sehingga terbentuk ikatan Al-organik. Hal tersebut akan menurunkan Al tertukar dan meningkatkan pH tanah. Pembentukan ikatan Al-organik juga mengurangi ikatan AL-P dalam tanah sehingga terjadi peningkatan ketersediaan P dalam tanah.
Karbon Organik tanah bersumber dari hasil dekomposisi bahan organik yang berada dalam tanah. Bahan organik ini dalam bentuk sisa tanaman dan hewan. Adapun bahan-bahan organik yang diberikan ke tanah seperti kompos dan pupuk kandang. Kadar C-organik merupakan salah satu parameter yang menentukan kesuburan tanah (Foth, 1994).
Unsur Hara Fosfor
Tanaman lebih banyak menyerap H2PO-4 dibandingkan HPO=4 dan PO43-. Kesetimbangan ion-ion ini dalam larutan tanah dikendalikan oleh pH tanah. Serapan fosfat terbesar terjadi pada kisaran pH 4,0-8,0 dan di atas atau dibawah nilai ini akan menyusut. Pada kisaran pH itu larutan tanah lebih banyak mengandung ion-ion fosfat (Mas’ud, 1992).
Secara umum fungsi dari fosfor dalam tanaman dapat dinyatakan sebagai berikut :
  • dapat mempercepat pertumbuhan akar semai
  • dapat mempercepat serta memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi dewasa pada umurnya.
  • dapat mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, biji atau gabah.
(Sutedjo, 2002).
Secara umum fungsi dari fosfor dalam tanaman dapat dinyatakan sebagai berikut dapat mempercepat pertumbuhan akar semai, dapat mempercepat serta memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi dewasa pada umumnya, dan mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, biji atau gabah (Sutedjo, 2002)
Unsur Hara Kalium
Tanaman menyerap ion K+ hasil pelapukan, pelepasan dari situs pertukaran kation tanah dan dekomposisi bahan organik yang terlarut dalam larutan tanah.kadar K-tertukar tanah biasanya sekitar 0,5-0,6% dari total K tanah. K-larutan + Ktertukar merupakan K-tersedia tanah.  (Hanafiah, 2005).
Dalam hal mobilitasnya di dalam tanah, kalium berada diantara nitrogen dan fosfor.Kalium terlarut dan kalium yang dapat dipertukarkan keduanya dianggap tersedia bagi tanaman.  (Foth, 1994).
Kalium merupakan unsur hara yang essensial bagi seluruh jasad hidup. Pada jaringan tanaman tinggi, kalium menyusun 1.7-2.7 % bahankering daun normal. Kebutuhan tanaman terhadap ion K+tidak dapat diganti oleh kation alkali lain. Kalium terlibat dalam berbagai proses fisiologi tanaman, terutama berperan dalam berbagai reaksi biokimia. Beberapa eungi kalium dalam tubuh tanaman antara lain : sebagai pengaktif beberapa enzim, berperan dalam sintesis protein dan pati dan pemindahan fotosintat (Mas’ ud, 1992).
Tanaman Jagung
Iklim
Penanaman jagung di dunia tersebar luas di daerah subtropik ataupun tropic. Tanaman jagung dapat beradaptasi luas terhadap lingkungan tumbuh. Secara umum, tanaman jagung dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi ± 1.300m dpl, kisaran suhu udara antara 130C-380C, dan mendapat sinar matahari penuh. Di Indonesia tanaman jagung tumbuh dan berproduksi optimum di dataran rendah sampai ketinggian 750 m dpl. Selama pertumbuhan tanaman jagung membutuhkan suhu optmum antara 230C-270C. Suhu panas dan lembab amat baik bagi pertumbuhan tanaman jagung pada periode tanam sampai fase reproduktif, terutama sampai akhir pembuahan (Supraptodan Marzuki, 2002).
Curah huajn yang ideal untuk tanaman jagung adalah antara 100 mm-200 mm per bulan. Curah hujan paling optimum adalah sekitar 100 mm- 125 mm perbulan dengan distribusi yang merata. Tanaman jagung membutuhkan penyinaran matahari penuh, maka tempat penanamannya harus terbuka. Ditempat yang terlindungi, pertumbuhan batang tanaman jagung menjadi kurus dan tongkolnya ringan sehingga produksinya cenderung menurun (Rukmana, 1997).
Keadaan iklim di daerah yang akan dijadikan lahan untuk bertanam jagung memiliki curah hujan 100-200 mm/bulan dengan penyerapan merata intensitas sinar 100%, temperature 160C-380C, suhu optimum 240C-300C. Tinggi tempat 0-1300 m dpl dan tipe iklimnya A-E oldeman (Supraptodan Marzuki, 2002).
Tanah
Tanah berdebu yang kaya hara dan humus amat cocok untuk tanaman jagung. Tanah-tanah berpasir dapat ditanami jagung dengan pengelolaan air yang baik dan penambahan pupuk organik. Ini jelas bahwa tanaman jagung membutuhkan tanah yang berstruktur lempung, lempung berdebu ataupun lempung berpasir, dengan struktur tanah remah, aerasi dan drainasenya baik, serta cukup air. Keadaan tanah demikian dapat memacu pertumbuhan dan produksi jagung bila tanah tersebut subur, gembur, dan kaya akan bahan orgnik. Tanaman jagung toleran terhadap reaksi keasaman tanah pada kisaran pH 5,5-7,0. Tingkat kemasaman tanah yang baik untuk tanaman jagung adalah pada pH 6,8. Bila lahan kering ber pH masam (pH kurang dari 5,5) dialokasikan untuk penanaman jagung, perlu dilakukan pengapuran lebih dahulu (Rukmana, 1997).
Tanah yang baik untuk tanaman jagung adalah yang bertekstur lempung, lempung berdebu atau lempung berpasir. Struktur tanahnya gembur dan kaya bahan organic. Derajat kemasaman (pH 5,5-7,6 dan pH optimal 6,8). Kemiringan tanah tidak lebih dari 8%. Lokasi lahan di areal terbuka seperti halnya persawahan padi. Bebas dari genangan air dan tidak terendam air serta dapat diairi bila diperlukan (Martodiraso dan Suryanto, 1999).
Tanaman jagung mengadsorbsi P dalam jumlah relatif sedikit dari pada absorbsi hara N dan K. Pola akumulasi P tanaman jagung hampir sama dengan akumulasi hara N. Pada fase pertumbuhan akumulasi P sangat lambat, namun setelah berumur 4 minggu meningkat dengan cepat. Konsentrasi P dalam daun terus menurun dengan waktu sedangkan konsentrasi P dalam batang cukup besar dan hara P terdapat dalam biji (Fathan, dkk, 1988).