Jumat, 31 Juli 2015

''GERAKAN LUBANGI BUMI SIMPAN AIR, LUTIM TARGET 4000 LUBANG BIOPORI, ''BADAN PELAKSANA PENYULUHAN PERTANIAN PERIKANAN DAN KEHUTANAN IKUT ANDIL DALAM PEMBUATAN LUBANG BIOPORI''

''GERAKAN LUBANGI BUMI SIMPAN AIR, LUTIM TARGET 4000 LUBANG BIOPORI, ''BADAN PELAKSANA PENYULUHAN PERTANIAN PERIKANAN DAN KEHUTANAN IKUT ANDIL DALAM PEMBUATAN LUBANG BIOPORI''
definisi dan penmgertian lubang biopori menurut organisasi.org adalah lubang yang dengan diameter 10 sampai 30 cm dengan panjang 30 sampai 100 cm yang ditutupi sampah organik yang berfungsi untuk menjebak air yang mengalir di sekitarnya sehingga dapat menjadi sumber cadangan air bagi air bawah tanah, tumbuhan di sekitarnya serta dapat juga membantu pelapukan sampah organik menjadi kompos yang bisa dipakai untuk pupuk tumbuh-tumbuhan.
Tujuan / Fungsi / Manfaat / Peranan Lubang Resapan Biopori / LRB :
1. Memaksimalkan air yang meresap ke dalam tanah sehingga menambah air tanah.
2. Membuat kompos alami dari sampah organik daripada dibakar.
3. Mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit.
4. Mengurangi air hujan yang dibuang percuma ke laut.
5. Mengurangi resiko banjir di musim hujan.
6. Maksimalisasi peran dan aktivitas flora dan fauna tanah.
7. Mencegah terjadinya erosi tanah dan bencana tanah longsor.
Tempat yang dapat dibuat / dipasang lubang biopori resapan air :
1. Pada alas saluran air hujan di sekitar rumah, kantor, sekolah, dsb.
2. Di sekeliling pohon.
3. Pada tanah kosong antar tanaman / batas tanaman.
Cara Pembuatan Lubang Biopori Resapan Air :
1. Membuat lubang silindris di tanah dengan diameter 10-30 cm dan kedalaman 30-100 cm serta jarak antar lubang 50-100 cm.
2. Mulut lubang dapat dikuatkan dengan semen setebal 2 cm dan lebar 2-3 centimeter serta diberikan pengaman agar tidak ada anak kecil atau orang yang terperosok.
3. Lubang diisi dengan sampah organik seperti daun, sampah dapur, ranting pohon, sampah makanan dapur non kimia, dsb. Sampah dalam lubang akan menyusut sehingga perlu diisi kembali dan di akhir musim kemarau dapat dikuras sebagai pupuk kompos alami.
4. Jumlah lubang biopori yang ada sebaiknya dihitung berdasarkan besar kecil hujan, laju resapan air dan wilayah yang tidak meresap air dengan rumus = intensitas hujan (mm/jam) x luas bidang kedap air (meter persegi) / laju resapan air perlubang (liter / jam)









Jumat, 24 Juli 2015

Rekayasa Mikoriza (Buatan)


TEKNIK MEMPERBANYAK MIKORIZA
Mikoriza merupakan suatu hubungan simbiotik mutualisme antara jamur tertentu dengan perakaran tanaman tingkat tinggi.Jamur membantu penyerapan unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman, khususnya unsur P dan N, sedangkan tanaman menyediakan unsur karbon yang dibutuhkan jamur untuk kelangsungan hidupnya.
Mikoriza terdapat hampir di semua tanaman inang, baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan.Penyebaran mikoriza sangat luas dan dapat ditemukan di berbagai areal pertanaman di Indonesia, mulai dari daerah pegunungan sampai daerah pantai.
Mikoriza berperan dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman dengan bertambahnya kemampuan akar dalam menyerap unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman.Selain itu mikoriza juga berperan dalam meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan patogen akar, ketahanan terhadap kekeringan atau kondisi ekstrim lainnya.
Klasifikasi Mikoriza
Secara umum mikoriza dapat digolongkan menjadi 2 kelompok, yaitu :
Endomikoriza dan Mikoriza Vesikular Arbuskular (MVA)
  1. 1.      Mikoriza Vesikular Arbuskular (MVA)
Mikoriza dalam kelompok ini dicirikan dengan adanya struktur berupa vesikel dan arbuskul.Vesikel merupakan penggelembungan hifa MVA yang berbentuk bulat dan berfungsi sebagai tempat penyimpan cadangan makanan.
Arbuskul merupakan sistem percabangan hifa yang kompleks, bentuknya seperti akar yang halus.Arbuskul berfungsi sebagai tempat pertukaran nutrisi antara jamur dan tanaman.
MVA termasuk kelompok mikoriza yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai pupuk hayati (biofertilizer).Adapun jenis-jenis MVA yang potensial tersebut diantaranya tergolong dalam genus Glomus, Gigaspora, dan Acaulospora.
  1. 2.      Ektomikoriza
Mikoriza dalam kelompok ini dicirikan dengan adanya struktur berupa mantel hifa (Hartig net) yang berfungsi sebagai tempat pertukaran nutrisi.Mikoriza jenis ini tidak membentuk vesikel maupun arbuskul dan umumnya membentuk badan buah yang tergolong dalam kelas Basidiomycetes atau Ascomycetes.
Persiapan Perbanyakan MVA
Bahan yang perlu dipersiapkan yaitu media tanam (pasir, tanah, arang sekam atau yang lain), starter mikoriza (akar yang bermikoriza atau media yang mengandung spora MVA), benih jagung/sorghum, pupuk cair, pot/bak plastik/polibag, dan kantong plastik. Peralatan yang dibutuhkan antara lain dandang sabluk, cetok, gunting, hand sprayer, kompor, dll.
Produksi MVA
Umumnya produksi MVA yang sering dilakukan adalah dengan menggunakan metode pot kultur, yaitu menanam benih jagung dalam pot-pot atau bak-bak plastik. Tahap produksi MVA diawali dengan sterilisasi media.Media perbanyakan MVA yang berupa pasir/tanah/arang sekam dipanaskan dengan menggunakan dandang sabluk selama 1 – 2 jam. Tujuannya adalah untuk membunuh mikroorganisme yang hidup pada media tanam, sehingga diharapkan kompetisi antara MVA dan mikroorganisme lain menjadi berkurang.
Selanjutnya media dimasukkan ke dalam pot/polibag/bak plastik sampai ¾ volumenya.Tanam benih jagung/sorghum yang telah dikecambahkan terlebih dahulu. Benih jagung yang telah berkecambah akan meningkatkan persentase pertumbuhannya karena media tanam yang digunakan miskin unsur hara. Biarkan benih tumbuh sampai berumur 2 minggu dengan melakukan penyiraman secara teratur menggunakan hand sprayer.
Tahap selanjutnya adalah memasukkan starter mikoriza yang berupa akar yang bermikoriza/spora MVA di sekitar perakaran sebanyak 0,5 – 1 gram. Starter MVA yang dicampurkan minimal mengandung 10-20 spora.
Pemeliharaan
Tahap pemeliharaan dilakukan sampai inang berumur ±2 bulan.Tanaman jagung diletakkan pada suatu tempat yang cukup mendapatkan sinar matahari sambil sesekali dilakukan penyiraman dan pemupukan.Penyiraman tidak perlu dilakukan secara teratur, cukup dengan menjaga kelembapan media tanam.Pemupukan juga dilakukan secukupnya, dengan memilih pupuk cair yang mengandung unsur P rendah. Pemeliharaan tanaman yang telah tumbuh juga meliputi pengamatan terhadap serangan hama dan penyakit. Tanaman yang tampak terserang hama dan penyakit atau tumbuh abnormal segera dicabut dan diganti dengan benih yang baru.
Stressing
Tahap stressing adalah suatu tahapan yang berupa usaha untuk menghambat atau menekan pertumbuhan tanaman inang dengan kondisi tertentu. Tujuannya yaitu untuk  memacu MVA membentuk struktur tahan berupa spora. Spora inilah nantinya yang dapat dipanen dan menjadi sumber inokulum (starter mikoriza).
Usaha-usaha stressing yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
Penghentian penyiraman
Setelah selama 2 bulan tanaman inang dipelihara dengan sesekali dilakukan penyiraman, maka pada bulan ketiga dilakukan stressing dengan menghentikan proses penyiraman selama 1 (satu) bulan. Dalam kondisi seperti ini secara otomatis akar tanaman inang akan berusaha keras untuk mendapatkan air. Pada saat inilah simbiosis antara MVA dan akar tanaman inang berjalan optimal. Hifa-hifa MVA akan tumbuh memanjang untuk membantu akar tanaman inang mencari sumber air.
Topping dan pemaparan sinar matahari
Topping atau pemotongan bagian atas tanaman inang dilakukan dengan hanya menyisakan batang bawah ± 1/4nya.Kondisi ini dikombinasikan dengan melakukan pemaparan tanaman inang di bawah bawah sinar matahari. Kondisi seperti ini akan semakin menekan kondisi fisik tanaman inang dan MVA. Perlahan-lahan tanaman inang akan mati sehingga akan mempengaruhi kondisi MVA. Dalam keadaan yang tidak menguntungkan tersebut MVA akan membentuk struktur tahan berupa spora untuk mempertahankan hidupnya.
Pemanenan
Pemanenan dapat dilakukan setelah tanaman inang mengalami stressing selama 1 (satu) bulan atau ± 3 (tiga) bulan sejak tanam awal. Pemanenan dilakukan dengan cara membongkar tanaman inang dan mengambil bagian akarnya. Akar lalu dipotong kecil-kecil (± 0,5 cm) dan dicampur dengan media tanamnya. Selanjutnya kemas mikoriza beserta media tanamnya dalam kantong plastik dan siap untuk diaplikasikan sebagai pupuk hayati.Bila tidak langsung digunakan maka sebaiknya disimpan dalam lemari es.
Aplikasi di Lapangan
Penggunaan MVA lebih efektif diaplikasikan pada saat pembibitan karena MVA akan segera menginfeksi jaringan akar yang relatif masih muda. Dengan demikian bibit yang akan dipindahkan ke lapang perakarannya telah terlindungi oleh MVA sehingga dapat terhindar dari serangan patogen, khususnya patogen terbawa tanah. Namun dapat pula aplikasi dilakukan pada saat bibit dipindah ke lahan.Caranya yaitu dengan membuat lubang tanam, kemudian mengambil tanahnya dan mencampurnya dengan mikoriza.Dosis yang disarankan minimal 15 – 20 gram/bibit.Aplikasi sebaiknya dilakukan pada waktu sore hari (pukul 16.00 – 17.00 WIB).

Reference Mulsa


Mulsa Plastik Hitam Perak

Filed under: Articles — fahrurrozi @ 9:07 pm
Fakta Ilmiah Dibalik Penggunaan Mulsa Plastik Hitam Perak
dalam Produksi Tanaman Sayuran
(Fahrurrozi, Orasi Ilmiah pada Dies Natalis  & Wisuda Sarjana I, STIPER Rejang Lebong. 29 Januari 2009)
Pendahuluan
Mulsa dapat didefinisikan sebagai setiap bahan yang dihamparkan untuk menutup sebagian atau seluruh permukaan tanah dan mempengaruhi lingkungan mikro tanah yang ditutupi tersebut (Waggoner et al., 1960).  Bahan-bahan dari mulsa dapat berupa sisa-sisa tanaman atau bagian tanaman yang lalu dikelompokkan sebagai mulsa organik, dan bahan-bahan sintetis berupa plastik yang lalu dikelompokkan sebagai mulsa non-organik. Penggunaan mulsa plastik sudah menjadi standar umum dalam produksi tanaman sayuran yang bernilai ekonomis tinggi, baik di negara-negara maju maupun di negara berkembang, termasuk Indonesia. Bahan utama penyusun mulsa plastik adalah low-density polyethylene yang dihasilkan melalui proses polimerisasi etilen dengan menggunakan tekanan yang sangat tinggi (Lamont 1993).  Penggunaan mulsa plastik, terutama mulsa plastik hitam perak, dalam produksi sayuran yang bernilai ekonomis tinggi seperti cabai, tomat, terong, semangka, melon dan mentimun, semakin hari semakin meningkat sejalan dengan peningkatan kebutuhan dan permintaan konsumen terhadap produk sayuran tersebut. Meskipun penggunaan mulsa plastik ini memerlukan biaya tambahan, tetapi nilai ekonomis dari hasil tanaman mampu menutupi biaya awal yang dikeluarkan. 
Penggunaan mulsa plastik hitam perak di Kabupaten Rejang Lebong sebagai sentra produksi sayuran terbesar kedua di Sumatera, setelah sangat pesat perkembangannya dalam 10 tahun terakhir ini.  Hasil pengamatan di Kabupaten Rejang Lebong menunjukkan bahwa penggunaan mulsa plastik hitam perak sudah hampir menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses produksi tanaman sayuran, terutama cabe dan tomat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan berbagai jenis mulsa pada berbagai jenis tanaman secara tepat dan benar dapat meningkatkan hasil awal dan total hasil dari berbagai tanaman, meningkatkan kualitas hasil tanaman dan pada akhirnya meningkatkan efisiensi usaha tani itu sendiri.
Tulisan ini akan memberikan penjelasan ilmiah tentang penggunaan mulsa plastik hitam perak, sehingga upaya pemanfaatan teknologi ini dapat lebih optimal dan efisien, serta terciptanya suatu proses produksi tanaman sayuran yang berkelanjutan, baik dari sisi ekonomis, ekologis maupun dari segi sosial budaya petani dalam memproduksi tanaman sayuran.
Mekanisme dasar pengaruh mulsa plastik
Pengaruh mulsa plastik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sayuran terutama ditentukan melalui pengaruhnya terhadap keseimbangan cahaya yang menerpa permukaan plastik yang digunakan.  Secara umum seluruh cahaya matahari yang menerpa permukaan plastik, maka sebagian cahaya tersebut akan dipantulan kembali ke udara, dalam jumlah yang kecil diserap oleh mulsa plastik, dan diteruskan mencapai pemukaan tanah yang ditutupi mulsa plastik.  Kemampuan optis mulsa plastik dalam memantulkan, menyerap dan melewatkan cahaya tersebut ditentukan oleh warna dan ketebalan mulsa plastik tersebut (Decouteau et al., 1988, 1989 ; Lamont, 1993).  Cahaya yang dipantulkan permukaan mulsa plastik ke amosfir akan mempengaruhi bagian atas tanaman, sedangkan cahaya yang diteruskan ke bawah permukaan mulsa plastik akan mempengaruhi kondisi fisik, biologis dan kimiawi rizosfir yang ditutupi.
Cahaya matahari yang diteruskan melewati permukaan mulsa terjebak di permukaan tanah yang ditutupinya dan membentuk ‘efek rumah kaca’ dalam skala yang kecil (Waggoner., 1960 ; Tanner, 1974 ; Mahrer et al., 1979). Panas yang terjebak ini akan meningkatkan suhu permukaan tanah, memodifikasi keseimbangan air tanah, karbondioksida tanah, menekan pertumbhan gulma, dan meningkatkan aktifitas mikroorganisme.  Secara umum, peningkatan suhu permukaan tanah mungkin bukan merupakan yang menguntungkan bagi sayuran yang ditanam di daerah tropis, tetapi hal ini sangat menguntungkan bagi tanaman yang ditanam di daerah yang dingin dan beriklim sub-tropis. Namun demikian di daerah tropis, pengaruh mulsa plastik terhadap aktifitas mikroorganisme (sebagai akibat peningkatan suhu rizosfir) sangat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman melalui peningkatan konsentrasi karbon dioksida di zona pertanaman (Fahrurrozi et al., 2001) dam suplai bebrap hara makro  (Hill et al., 1982). Efektifitas penggunaan mulsa plastik di daerah tropis juga diperoleh dari kemampuan fisik mulsa plastik melindungi tanah dari terpaan langsung butir hujan, menggemburkan tanah-tanah di bawahnya, mencegah pencucian hara, mencegah percikan butir tanah ke tanaman, mencegah penguapan air tanah, dan memperlambat pelepasan karbon dioksida tanah hasil respirasi aktivitas mikroorganisme. 
Mengapa hitam perak?
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman sesungguhnya merupakan hasil tanaman dalam memanfaatkan sumberdaya cahaya yang ada di atmosfir melalui proses fotosintesis.  Hasil penelitian oleh Decouteau et al.(1998, 1989) menunjukkan bahwa warna permukaan  mulsa plastik memiliki kemampuan optis dalam mengubah kuantitas dan kualitas cahaya yang dapat dimanfaatkan tanaman dalam melakukan proses pertumbuhannya.   Warna-warna gelap, seperti hitam, merah, coklat dan hijau cenderung menyerap cahaya lebih banyak dibandingkan dengan warna trasparant atau warna yang cerah termasuk warna perak (Fahrurrozi dan Stewart, 1994).  Sebaliknya mulsa transparant melewatkan hampir semua cahaya yang menimpa permukaannya ke zona rizosfir tanaman.  Mulsa plastik yang berwarna gelap sangat efektif dalam mengendalikan gulma, tetapi sebaliknya untuk mulsa plastik transparan(Fahrurrozi dan Stewart, 1994).  Efektivitas pengendalian gulma di bawah mulsa plastik hitam dikarenakan karena hampir tidak ada cahaya yang dapat dimanfaatkan oleh biji-biji gulma untuk fotosintesis, sehingga gulma tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.  Sedangkan gulma yang tumbuh di bawah mulsa plastik transparan tumbuh dengan baik, karena hampir semua cahaya matahari dilewatkan (ditransmit) plastik ke zona rizosfir.
Mulsa plastik yang berwarna perak memiliki kemampuan memantulkan sekitar 33 persen cahaya matahari yang menerpa permukaannya (Fahrurrozi dan Stewart, 1994), tergantung jumlah zat pewarna yang digunakan dan ketebalan mulsa. Pantulan cahaya ini mampu mengurangi efek pemanasan rizosfir di bawah permukaan plastik, dan juga merupakan rentang cahaya yang disukai oleh serangga, sehingga serangga akan mengikuti arah pantulan dan meninggalkan pertanaman, Akibatnya populasi serangga, misalkanaphids dan thrips, dapat berkurang di zona pertanaman yang diusahakan.  Kemampuan menekan populasi serangga ini dan mencehag terjadinya pemanasan berlebihan merupakan salah satu alasan mengapa plastik bewarna perak digunakan dalam produksi tanaman sayuran.
Teknologi produksi mulsa juga mengembangkan apa yang disebut dengan co-extruded mulch, mulsa yang memiliki dua warna yang berbeda di kedua sisinya (Dubois and Brighton, 1978).  Mulsa plastik hitam perak merupakan salah satu produk co-extruded mulch yang paling populer digunakan dalam produksi tanaman sayuran, karena pada bagian bawahnya (yang bersentuhan dengan pemukaan tanah) bewarna hitam, dan yang menghadap ke atmosfir bewarna perak. Mulsa plastik hitam perak memadukan kemampuan kedua warna tersebut, sehingga mulsa jenis ini efektif dalam menekan pertumbuhan gulma, dan juga mengurangi populasi serangga di sekitar pertanaman dengan tetap secara fisik melindungi tanah dari terpaan langsung butir hujan, menggemburkan tanah-tanah di bawahnya, mencegah pencucian hara dan penguapan air tanah, dan memperlambat pelepasan karbon dioksida tanah hasil respirasi aktivitas mikroorganisme, serta mencegah percikan butir tanah ke bagian tanaman. 

Mulsa plastik hitam perak dan produksi sayuran
Berbagai penelitian di berbagai wilayah menunjukkan bahwa penggunaan mulsa plastik hitam perak meningkatkan hasil berbagai tanaman sayuran dibandingkan dengan tanaman  yang ditanam dengan tanpa menggunakan penutup tanah (bare soil), seperti tanam cabai (Fahrurrozi, 1995; Harsono, 1997; Syamiah, 1997;  Kusbiantoro et al., 2003; Fahrurrozi dkk, 2006; 2009; Soetiarso, dkk., 2006), tomat (Decouteau et al.,1998 ; 1989), mentimum (Gusmin, 1996; Suryani, 2003), semangka (Handayani, 1996; Nurmawati dkk., 2001), melon  (Marlina, 2003).
Aspek lingkungan yang dimodifikasi
Suhu tanah dan karbon dioksida .
Secara umum penggunaan mulsa plastik hitam perak meningkatkan suhu rizosfir yang ditutupi mulsa dibanding tanpa mulsa (Fahrurrozi and Stewart, 1994 ; Fahrurrozi et al., 2001).  Peningkatan suhu tanah di bawah mulsa plastik hitam perak lebih rendah dibanding dengan suhu tanah di bawah mulsa plastik hitam.  Meskipun di daerah tropis, peningkatan suhu tanah relatif tidak diinginkan, tetapi peningkatan suhu tanah akan meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah dalam menguraikan bahan organik yang tersedia (Fahrurrozi et al., 2001), sehingga terjadi penambahan hara tanah dan pelepasan karbon dioksida melalui lubang tanam.
Hasil penelitian menujukkan bahwa konsentrasi karbon dioksida rizosfir di bawah mulsa plastik lebih tinggi dibanding tanpa mulsa (Hopen dan Oekber, 1975 ; Baron dan Gorske, 1981).  Karbon  dioksida ini keluar melalui lubang tanam yanga mencapai 560 ppm (Soltani et al., 1985), sehingga tanaman akan berada dalam kondisi ‘kaya’ akan karbon dioksida yang dapat mencapai 1350 ppm (Fahrurrozi et al., 2001).
Hara tanah
Penambahan hara tanah tidak hanya terjadi sebagai akaibat meningkatkatnya aktivitas mikroorganisme tanah dalam melakukan respirasi dalam proses dekomposisi bahan organik, tetapi juga terjadi melalui penekanan pencucian hara tanah sebagai akibat tertutupnya permukaan tanah.  Menurut Locascio et al. (1985) dan Lamont (1993), peningkatan nitrogen nitrogen di bawah mulsa plastik terjadi karena mulsa plastik mencegah terjadinya infiltrasi air hujan berlebihan dan perkolasi air tanah, serta mengurangi penguapan nitrogen dari dalam tanah.
Kemampuan mulsa plastik dalam mencegah kehilangan hara juga akan meningkatkan efisiensi penggunaan nitrogen. Hasil penelitian Fahrurrozi dkk (2009) menunjukkan bahwa nirogen dapat dikurang hingga 40 persen jika menggunakan mulsa plastik hitam perak, tanpa mengurangi hasil tanaman cabai.  Tidak tertutup kemungkinan bahwa efisiensi penggunaan hara juga terjadi pada hara-hara makro lainnya, misal P2O5 dan K2O.
Air tanah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa air tanah dan kelembahan tanah lebih tinggi  pada tanah yang ditutupi mulsa plastik dibanding dengan tanah yang tidak ditutupi mulsa plastik (Hills et al., 1982 ; Fahrurrozi dan Stewart, 1994 ; Fahrurozi dkk, 2008).  Hal ini terjadi karena penguapan air tanah yang terjadi dihambat oleh permukaan plastik yang menutupinya, dan kembali lagi ke rizosfir.  Penggunaan mulsa plastik juga mencegah terjadi perkolasi dan gerakan air tanah, sehingga dapat meningkatkan meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi (Lamont, 1993; Zulkarnain, 1997). 
Pengendalian  Gulma
Secara sederhana gulma dapat didefinisikan sebagai tanaman yang tumbuh pada tempat dan waktu yang tidak diinginkan.  Mulsa plastik yang berwarna gelap sangat efektif dalam mengendalikan gulma (Fahrurrozi dan Stewart, 1994).  Hal ini terjadi karena benih-benih gulma di bawah mulsa plastik hitam tidak memiliki akses terhadap cahaya matahari untuk berfotosintesis, sehingga gulma yang tumbuh akan mengalami etiolasi dan tumbuh lemah.   Pertumbuhan yang lemah ini akan diperparah dengan adanya suhu yang relatif panas dan kelembaban tanah yang tinggi.  Panas yang basah memiliki efek mematikan yang lebih tinggi dibanding panas kering.   Hasil penelitian di berbagai tempat menunjukkan bahwa penggunaan mulsa plastik hitam perak secara konsisten efektif menekan pertumbuhan gulma (Fahrurrozi, 1995 ; Schonbeck, 1998; Setyowati dkk., 2002 ; Fahrurrozi dkk, 2006).
Populasi Serangga
Peningkatkan hasil juga diduga berkaitan dengan kemampuan mulsa plastik hitam perak dalam mengurangi populasi aphid pada dedaunan tanaman cabai (Fahrurrozi, 1995). Pengurangan  berkaitan fakta bahwa hampir 33 persen permukaan mulsa plastik perak memantulkan cahaya near ultra violet (Fahrurrozi dan Stewart,  1994), gelombang cahaya yang disukai oleh kebanyakan serangga (Kring, 1974).  Serangga lain yang juga populasinya berkurang di pertanaman yang menggunakan mulsa plastik perak adalah thrips (Voset al., 1991 ; Soetiarso, dkk, 2006). Penurunan populasi serangga ini juga berkaitan dengan peningkatan suhu akibat pantulan cahaya di sekitar permukaan mulsa dan pertanaman. Menurut Alleyene dan Morrison (1978) pada suhu antara 25 – 30o C perkembangbiakan aphid mengalami penghambatan. Pengurangan populasi serangga juga mampu mengurangi populasi patogen dan virus pengganggu tanaman (Wyman et al., 1979).  Hal ini terjadi karena serangga tersebut berperan sebagai vektor bagi patogen dan virus.
Modifikasi lainnya
Penggunaan mulsa plastik (termasuk hitam perak) dapat mengurangi pemadatan tanah, sehingga tanah-tanah yang ada di bawah permukaan plastik dapat menjadi lebih gembur dibanding tanpa mulsa plastik (e.g. Lamont, 1993; Fahrurrozi dkk, 2006).   Butir hujan yang menerpa permukaan tanah tidak langsung masuk ke zona rizosfir, tetapi dicegah oleh plastim dan mengalir ke luar guludan.  Penggunana mulsa palstik juga mengurangi erosi tanah, karena guludan tertutup plastik, sehingga butir tanah tidak terangkut ke tempat lain. Penggunaan mulsa plastik juga mengurangi efek percikan permukaan tanah, karena tanaman tumbuh di kawasan yang relatif tertutup dengan mulsa plastik.  Akibatnya tanaman bagian ekonomis tanaman (daun, bunga dan buah) menjadi bersih dan tidak mudah terserang patogen. 
Penggunaan ulang mulsa plastik
Persoalan limbah plastik memang merupakan hal yang harus diantisipasi karena sifak plastik yang sulit terurai di alam.  Upaya mengurangi limbah kebanyakan dilakukan dengan melakukan pembakaran secara terbuka.  Untuk didaur ulang, pabrik mengalami kesulitan, karena sisa-sisa plastik sangat kotor, terutama dari butiran pasir halus.  Produsen plastik di negara-negara maju telah mengembangkan jenisphotodegradable plastic, jenis plastik yang dapat terurai di alam melalui stimulasi cahaya matahari.  Stabilitas plastik selama produksi tanaman masih menjadi kendala, karena usia tanaman dan kondisi pencahayaan berbeda-beda. Para ahli juga mengembangkan biodegradable plastic, jenis plastik yang dapat terurai melalui stimulasi mikrooragnisme.   Kedua jenis ini tampaknya belum tersedia dalam skala komersial di Indonesia, tetapi di Amerika Utara dan Eropa Barat, sudah dapat dibeli oleh petani.  
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan plastik secara berulangkali pada lubang tanam yang sama atau yang berbeda.  Hasil observasi lapangan di Kabupaten Rejang Lebong, misalnya, menunjukkan bahwa kebanyakan petani cabai menggunakan mulsa plastik sampai rusak (biasanya sampai dua atau tiga kali pemakaian, dan bahkan ada yang menggunakan sampai empat kali). Meskipun kemampuan optis mulsa plastik hitam perak berubah sejalan dengan waktu (Kluitenberg et al., 1991), hasil penelitian Fahrurrozi dkk (2006) menunjukkan bahwa penggunaan mulsa plastik hitam perak hingga tiga kali tidak menurunkan produksi tanaman cabai.  Penggunaan mulsa plastik hitam perak secara berulang ini tidak hanya mengurangi limbah plastik di alam, tetapi juga dapat menekan biaya produksi petani.
Penutup
Peningkatan produktifitas tanaman sayuran yang diproduksi dengan menggunakan mulsa plastik hitam perak terjadi karena efek ganda lembaran plastik dalam memodifikasi lingkungan rizosfir tanaman dan lingkungan pertanaman sebagai akibat dari perubahan keseimbangan cahaya matahari yang menerpa permukaan mulsa plastik hitam perak.
Daftar Pustaka
Alleyne, E.H. and F.O. Morrison. 1978.  The lettuce root aphid, Pemphigus bursaries L. Homothera:Aphidoidae) in Cquebec Cananada. Ann. Soc. Ent. Quebec.  22:171-180
Baron, J.J. and S.F. Gorske. 1981. Soil carbon dioxide level  as affected by plastic mulches. Proc. Natl. Agr. Plastic Congress. 16:149-155.
Decoteau, D.R., M.J. Kasperbauer, D.D. Daniels and P.G. Hunt. 1988. Plastic mulch color effects on reflected light and tomato plant growth. Scientia Hortic. 34:169-175.
Decoteau, D.R., M.J. Kasperbauer and P.G. Hunt. 1989. Mulch surface color affects yield of fresh tomato. J. Amer. Soc.Hort. Sci 114:216-219.
Dubois, P. And C.A. Brighton. 1978. Plastics in Agricultural. Applied Science Publ. London. 176p.
Fahrurrozi. 1995. Pengaruh mulsa plastik terhadap pertumbuhan dan hasil Paprika (Capsicum annuum L.) jenis Bell dan populasi aphid. Jurnal Penelitian Universitas Bengkulu II (4) : 1 - 8.
Fahrurrozi and K.A. Stewart. 1994.  Effects of mulch optical properties on weed growth and development. HortScience 29 (6):545
Fahrurrozi, K.A. Stewart and S. Jenni.  2001. The early growth of muskmelon in mulched mini-tunnel containing a thermal-water tube.  I. The carbon dioxide concentration in the tunnel. J. Amer. Soc. For Hort. Sci.. 126:757-763.
Fahrurrozi, I. Tarmizi, dan B. Hermawan. 2009. Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai pada Berbagai Dosis Pupuk Nitrogen dan Jenis Mulsa. Bionatura. Dalam proses penerbitan untuk Volume 11, edisi Maret 2009
Fahrurrozi, N. Setyowati, dan Sarjono.  2006.  Efektifitas Penggunaan Ulang Mulsa Plastik Hitam Perak dengan Pemberian Pupuk Nitrogen terhadap Pertumbuhan dan Hasil Cabai. Bionatura 8:17-23.
Gusmin, E. 1996.  Pengaruh berbagai jenis mulsa terhadap pertumbuhan dan hasil mentimun. Skripsi S-1 Fakultas Pertanian.
Handayani, M. 1996. Pengaruh Enam Jenis Mulsa Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Semangka (Citrullus vulgaris L.). Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.
Harsono, P. 1997. Kajian mulsa plastik terhadap lingkungan mikro tanah dan hasil cabai (Capsicum annuum L.). Jurnal Penelitian UNIB 8 (3): 34-38.
Hill, D.E., L. Hankin, and G.R. Stephens.  1982.  Mulches: Their effect on fruit set, timing and yield of vegetables. Conn. Agr. Exp. Sta. Bulletin.  805.
Hopen, H.J. and N.F. Oebker. 1975. Mulch effects on ambient carbon dioxide levels and growth of several vegetables. HortScience. 10:159-161.
Kluitenberg, G.J., J.M. Ham, and W.J. Lamont. 1991. Effect of aging on the optical properties of plastic mulches. Proc. 23rd Natl. Agric. Plastics Congress. p:149-154.
Kring, J.B. 1964. New ways to repel aphids.  Frontier of Plant Science. 17:6-7.
Kusbiantoro, B., E. Sukarna dan M. Djakaria. 2003. Pengaruh penggunaan mulsa plastik dan pola tanam pada produksi cabai merah. http//www.warintek.progesio. html. 20 Nov 2003.
Lamont, W. J. 1993. Plastic mulches for the production of vegetable crops. HorTechnology. 3 (1) : 35-38.
Locascio, S.J. J.G.A. Fiskell, and D.A. Graetz,. 1985. Nitrogen accumulation by pepper as influenced by mulch and time of fertilizer application. HortScience. 110 (3) : 325-328.
Mahrer, Y.  1979. Prediction of soil temperatures of a soil mulched with transparent polyethylene. J. Applied Meteorology.  18:1263-1267.
Marlina, L. 2003. Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Melon pada Berbagai Konstruksi Ajir. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.

Nurmawati, S., I. Winarni, dan A. Waskito.  2001. Penggunaan mulsa jerami, alang-alang, dan plastic hitam perak pada tanaman semangka tanpa biji.  Jurnal Penelitian Matematika, Sains, dan Teknologi. 2:36-41.
Schonbeck, M.W. 1998.  Weed suppression and labor costs associated with organic, plastic and paper  mulches in small scale vegetable production.  J. Sustain. Agric. 13:13-32.
Setyowati, NanikFahrurrozi, P. Prawito, dan E. Satria.  2003. Pertumbuhan dan hasil kentang dataran tinggi Rejang.  Teknik Pemulsaan dan Pemupukan Bokashi terhadap Pertumbuhan Gulma. Pros. Konf. Nas. HIGI XVI. Bogor Juli 2003.
Soltani, N., J.L. Anderson and A.R. Hamson.  1985. Growth and analysis of watermelon plants grown with muches and row-covers. J.Amer. Soc. Hort. Sci.. 120:1001-1009
Soetiarso, T.A. Ameriana, M. Prabaningrum, L. Sumarni, N. 2006.  Pertumbuhan, hasil, dan kelayakan finansial penggunaan mulsa dan pupuk buatan pada usahatani cabai merah di luar musim. Jurnal Hortikultura. 16(1): 63-76

Suryani, L. 2003. Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Mentimun pada Berbagai Konstruksi Ajir. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.

Syamiah.  1997.  Pengaruh mulsa dan frekuensi penyinaran terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah di lahan sawah tadah hujan. Agrista 1(2):39-45
Tanner, B. 1074. Microclimate modification : Basic concepts. HortScience, 9:555-560.
Vos, J.G.M., Satrosiswijo, T.S. Uhan, and W. Setiawati. 1991. Thrips on hot pepper in Java.Indonesia. Proc. Reg. Consult. Workshop, Thrips in Southeast Asia, p:18-28.
Waggoner, P.E., P.M. Miller, and H.E. deRoo. 1960. Plastic mulching; Principles and benefits. Conn. Agr. Exp. Sta. Bul. 643. 44 pp.
Wyman, J.A., N.C. Toscano, K. Kido, H. Jhonson, and K.S. Mayberry. 1979. Effects of mulching on the soread of aphid-transmitted watermelon mosaic and virus to summer squash. J. Econ. Entomol. 72:139-143.
Zulkarnain, D. 1997. Pengaruh persentase penutupan mulsa terhadap sifat kimia tanah, pertumbuhan dan hasil bawang merah. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu, Bengkulu.